Di era digital, banyak pemilik bisnis dan UMKM memilih membuat website sendiri karena ingin hemat biaya dan merasa bisa mempelajarinya lewat tutorial YouTube. Sayangnya, langkah ini sering berakhir dengan website yang tidak efektif, tidak menghasilkan penjualan, bahkan tidak terlihat di Google sama sekali.
Agar kamu tidak jatuh pada jebakan yang sama, berikut 7 kesalahan fatal saat pemilik bisnis membuat website sendiri — lengkap dengan alasan kenapa hal-hal ini bisa merugikan bisnis.
1. Tidak Punya Tujuan yang Jelas
Banyak pemilik bisnis membuat website hanya karena “semua orang punya website”. Padahal, setiap website harus punya tujuan yang spesifik, misalnya:
- Mendapatkan leads
- Menjual produk
- Menampilkan portofolio
- Memberi informasi bisnis
Tanpa tujuan yang jelas, website hanya akan jadi brosur digital yang tidak menghasilkan apa-apa. Hasilnya? Trafik tidak ada, penjualan tidak meningkat, dan website terasa sia-sia.
2. Desain Tidak Profesional & Tidak Relevan dengan Brand
Saat membuat website sendiri, pemilik bisnis sering memakai template gratis tanpa mengubah desain secara menyeluruh. Akibatnya:
- Desain terlihat pasaran
- Tidak mencerminkan identitas brand
- Tidak ada hierarki visual
- Pengunjung bingung harus klik apa
Padahal, kesan pertama pengunjung hanya butuh 3–5 detik. Jika desainnya terlihat amatir, calon pelanggan akan meragukan profesionalitas bisnismu.
3. Konten Tidak Menjual dan Tidak Dibuat dengan Copywriting
Banyak website UMKM hanya berisi informasi seadanya: “Kami menjual ini”, “Silakan hubungi kami”, atau menyalin deskripsi dari marketplace.
Masalahnya, tanpa copywriting yang tepat, website tidak akan bisa:
- Meyakinkan calon pelanggan
- Menyampaikan value produk
- Mendorong pengunjung untuk membeli
Website bukan hanya soal tampilan — konten adalah yang membuatnya bekerja.
4. Mengabaikan SEO dan Struktur Website
Kesalahan terbesar yang paling sering terjadi adalah website tidak dioptimasi SEO. Pemilik bisnis mengira hanya cukup membuat website, lalu berharap Google otomatis menampilkannya di halaman pertama.
Beberapa kesalahan umum:
- Tidak menggunakan kata kunci yang dicari calon pelanggan
- Struktur heading berantakan
- Kecepatan website lambat
- Gambar terlalu berat
- Tidak ada meta title, meta description, atau alt text
Tanpa SEO, website akan tenggelam di Google dan tidak akan mendatangkan trafik organik.
5. Tidak Mobile-Friendly
Tahukah kamu?
Lebih dari 70% pengunjung website UMKM menggunakan mobile.
Sayangnya, banyak website yang dibuat sendiri tidak responsif:
- Tulisan terlalu kecil
- Tombol sulit diklik
- Layout berantakan
- Gambar tidak menyesuaikan layar
Ketika pengalaman pengguna buruk, pengunjung langsung keluar (bounce), dan akhirnya ranking di Google ikut turun.
6. Tidak Memikirkan Kecepatan Website
Website buatan sendiri sering lambat karena:
- Menggunakan hosting murah tetapi tidak sesuai kebutuhan
- Plugin terlalu banyak
- Gambar tidak dikompresi
- Template berat
Google memprioritaskan website yang cepat. Jika loading lebih dari 3 detik, 50% pengunjung langsung pergi. Ini artinya, kamu kehilangan calon pelanggan sebelum mereka melihat apa pun.
7. Tidak Memasang Elemen Penting untuk Konversi
Website yang dibuat sendiri sering tidak dilengkapi dengan elemen penting seperti:
- CTA (Call to Action) yang jelas
- Tombol WhatsApp yang mudah ditemukan
- Formulir yang simpel
- Bukti sosial (testimoni, portofolio, rating)
- Informasi kontak yang lengkap
Website boleh indah, tetapi kalau tidak mengajak pengunjung untuk bertindak, maka tidak akan menghasilkan penjualan.
Jadi, Apa Solusinya?
Membuat website sendiri memang bisa jadi pilihan murah, tapi tidak selalu efektif untuk jangka panjang. Jika kamu ingin:
- Website yang profesional
- Cepat dan mobile-friendly
- Siap tampil di halaman Google
- Bisa menghasilkan leads & penjualan
- Mudah dikelola tanpa pusing teknis
Maka bekerja sama dengan penyedia jasa profesional adalah pilihan terbaik.
Website bukan hanya tampilan — ini adalah investasi digital yang menentukan bagaimana calon pelanggan menilai bisnismu.
